X

Rabu, 09 Juli 2014

Tugas Berita UTS Jurnalis



Problematika Hidup Seorang Anas dan Mahfud

Ketidakharmonisan, kekerasan, dan kemiskinan di dalam rumah tangga kadang bahkan sering berdampak pada psikologis anak. Seperti  yang dialami oleh Anas (16 tahun), seorang pelajar yang tidak kerasan berada di rumahnya sendiri. Semua dikarenakan oleh orang tuanya sering bertengkar. Hal tidak berbeda pula terjadi pada Mahfud (17 tahun) seorang bocah lulusan SMP yang tidak mampu melanjutkan ke jenjang lebih tinggi (SMA), berhubung keluarganya tak mempunyai biaya. Berbagai hal tersebut menyebabkan anak suka berbuat seenaknya dan kelewat batas.
Cerita keduanya yang mengikuti kampanye sebuah partai politik pada senin (31/3) pukul 14 Wib di lapangan Pancasila, Jakarta. Karena diajak tetangga mereka. Berdua mengikuti konvoi dengan berboncengan menggunakan sepeda motor. Keduanya berboncengan Anas di depan dan Mahfud di belakang. Suara bising knalpot, motor yang dipreteli, surat-surat tidak bawa, dan tak memakai helm pula. Dengan mengenakan kaus bergambar calon legislatif (caleg) sebuah partai.
Ada 50-an motor yang ikut konvoi dengan berkeliling kota dan mereka ikut di dalamnya. Ketika sampai di tikungan Jl. Gatot Subroto, mereka dihadang polisi yang berjumlah 20-an orang, dengan menenteng pentungan dan ada pula yang membawa senjata laras panjang. Rombongan konvoi digiring ke sebuah lapangan kecil. Polisi menilang mereka yang tidak memakai helm, surat kendaraan, atau ada beberapa perlengkapan motor yang dicopot. Pengendara yang tidak melanggar diperbolehkan melanjutkan perjalanan. Sedangkan, 15-an motor yang melanggar aturan dikumpulkan di pojok lapangan. Anas termasuk yang terjaring razia. Karena dia tidak mempunyai SIM dan knalpot motornya tidak sesuai standar. Ketika ada salah satu peserta konvoi berusaha kabur, salah satu polisi sigap menarik kerah  salah seorang pengendara tersebut.
Kejadian yang menimpa Anas membuat orang tuanya yang tinggal di Kelurahan Makassar, Jakarta Timur, marah. Motornya yang biasa digunakan untuk berangkat bekerja berada di kantor polisi. Disamping orang tuanya harus mengikuti sidang untuk mengurus kendaraan, ia juga terpaksa naik Trans Jakarta  untuk ke kantor.
Ketika dikonfirmasi mengenai masalah ini, pakar Psikologi dari Universitas Indonesia (UI). Prof. Sadly Musa berpendapat remaja yang berkonvoi sepeda motor dengan menggeber motor sehingga bersuara superkeras itu berusaha melupakan masalah yang mereka hadapi. Dia mengatakan bisa saja mereka suntuk di rumah. Ada yang memiliki masalah keluarga, broken home, kemiskinan, beban berat di sekolah dan sebagainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar