Problematika Hidup Seorang Anas dan Mahfud
Ketidakharmonisan,
kekerasan, dan kemiskinan di dalam rumah tangga kadang bahkan sering berdampak
pada psikologis anak. Seperti yang
dialami oleh Anas (16 tahun), seorang pelajar yang tidak kerasan berada di
rumahnya sendiri. Semua dikarenakan oleh orang tuanya sering bertengkar. Hal
tidak berbeda pula terjadi pada Mahfud (17 tahun) seorang bocah lulusan SMP
yang tidak mampu melanjutkan ke jenjang lebih tinggi (SMA), berhubung
keluarganya tak mempunyai biaya. Berbagai hal tersebut menyebabkan anak suka
berbuat seenaknya dan kelewat batas.
Cerita keduanya
yang mengikuti kampanye sebuah partai politik pada senin (31/3) pukul 14 Wib di
lapangan Pancasila, Jakarta. Karena diajak tetangga mereka. Berdua mengikuti
konvoi dengan berboncengan menggunakan sepeda motor. Keduanya berboncengan Anas
di depan dan Mahfud di belakang. Suara bising knalpot, motor yang dipreteli,
surat-surat tidak bawa, dan tak memakai helm pula. Dengan mengenakan kaus
bergambar calon legislatif (caleg) sebuah partai.
Ada 50-an motor
yang ikut konvoi dengan berkeliling kota dan mereka ikut di dalamnya. Ketika
sampai di tikungan Jl. Gatot Subroto, mereka dihadang polisi yang berjumlah
20-an orang, dengan menenteng pentungan dan ada pula yang membawa senjata laras
panjang. Rombongan konvoi digiring ke sebuah lapangan kecil. Polisi menilang
mereka yang tidak memakai helm, surat kendaraan, atau ada beberapa perlengkapan
motor yang dicopot. Pengendara yang tidak melanggar diperbolehkan melanjutkan
perjalanan. Sedangkan, 15-an motor yang melanggar aturan dikumpulkan di pojok
lapangan. Anas termasuk yang terjaring razia. Karena dia tidak mempunyai SIM
dan knalpot motornya tidak sesuai standar. Ketika ada salah satu peserta konvoi
berusaha kabur, salah satu polisi sigap menarik kerah salah seorang pengendara tersebut.
Kejadian yang
menimpa Anas membuat orang tuanya yang tinggal di Kelurahan Makassar, Jakarta
Timur, marah. Motornya yang biasa digunakan untuk berangkat bekerja berada di
kantor polisi. Disamping orang tuanya harus mengikuti sidang untuk mengurus
kendaraan, ia juga terpaksa naik Trans
Jakarta untuk ke kantor.
Ketika dikonfirmasi
mengenai masalah ini, pakar Psikologi dari Universitas
Indonesia (UI). Prof. Sadly Musa berpendapat remaja yang berkonvoi sepeda motor
dengan menggeber motor sehingga bersuara superkeras itu berusaha melupakan
masalah yang mereka hadapi. Dia mengatakan bisa saja mereka suntuk di rumah.
Ada yang memiliki masalah keluarga, broken home, kemiskinan, beban berat di
sekolah dan sebagainya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar